Resensi Buku : Sang Penerjemah
(The Translator)
Buku Novel
Sang Penerjemah (The Translator)
Judul : Sang Penerjemah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penulis : Leila Aboulela
Kategori : Roman Dewasa
Tebal : 272 Halaman
Sammar adalah seorang janda muda berkebangsaan Sudan.
Ia bekerja sebagai penerjemah bahasa Arab di Universitas Aberdeen di
Skotlandia. Sejak kematian mendadak suaminya, anak lelaki satu-satunya tinggal
bersama bibi dan ibu mertuanya di kota Khartoum. Meninggalkan dirinya sendirian
di Aberdeen yang dingin dan kelabu, berduka dalam kesepian. Tetapi ketika
dirinya mulai menerjemahkan untuk Rae, seorang peneliti Islam dari Skotlandia,
keduanya mulai menjalin persahabatan yang sangat erat. Hingga tanpa disadari
telah membangunkan keinginan kuat dalam diri Samar yang selama ini dikubur
dalam-dalam. Rae adalah seorang pengajar orientalis di departemen yang sama,
tempat dimana Sammar bekerja. Berkebangsaan Skotlandia dan pernah dua kali
bercerai.
Ketika keduanya mulai jatuh cinta, Sammar tahu bahwa
mereka harus terlebih dulu mengatasi perbedaan diantara mereka. Terlebih dalam
menyikapi keyakinan masing-masing. Hingga akhirnya kedua karakter ini harus
berpisah untuk sementara waktu ketika Sammar harus kembali ke Sudan. Keduanya
akan bertemu kembali dan tentu saja sang waktu membuat keduanya menjadi lebih
bijaksana hingga akhirnya bisa saling memahami. Sammar melihat cahaya, bayangan
dan berpikir jika saat itu dirinya sedang berada di negara asalnya, Sudan.
Nyatanya ia masih di Aberdeen dan tiba-tiba merasa tersesat dalam berbagai
halusinasi, sebuah visi yang mengaburkan realitas.
Novel Sang Penerjemah mengambil setting di atas dua
kota yang sangat kontras, Aberdeen dan Khartoum. Baik yang mencerminkan keadaan
maupun pikiran dari karakter utamanya. Dinginnya kota Skotlandia justru membuat
Sammar merasa tertidur di dalamnya. Sedangkan cuaca panas di Sudan justru
membuat Sammar merasa hidup. Menempatkan sedikit kehangatan dalam hatinya yang
penuh kesedihan. Perbedaan antara kedua kota ini juga melambangkan perbedaan
dalam agama dan budaya antara dua karakter utama.
Novel ini merupakan gabungan kisah cinta, antara
manusia dan Tuhan-Nya. Dirangkum dengan indah oleh penulis dengan ulasan
layaknya puisi indah. Sang Penerjemah, merupakan kisah keberanian seorang
wanita untuk tetap teguh dengan keyakinan, diri dan cintanya. Meskipun novel
ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1995, namun pesan moral yang terkandung
di dalamnya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sebuah novel
nostalgia penuh kisah cinta dengan penuturan lemah lembut. Siap mengaduk-aduk
perasaan dan emosi para pembacanya.
Penulis dilahirkan pada tahun 1964 dan tumbuh dewasa
di Khartoum, Sudan. Dirinya telah menulis Minaret dan Coloured Lights dan
memenangkan Caine Praize for African Writing. Karyanya ini telah
diterjemahkan ke dalam enam bahasa berbeda. The Translator – Sang Penerjemah
adalah novel pertamanya dan terdaftar untuk Orange Prize dan IMPAC Dublin
Award, juga Saltire Society Scottish First Book of The Years Award.
Tidak mengherankan, jika The Guardian (Inggris)
menjuluki Aboulela sebagai penulis yang luar biasa puitis. Membaca novel ini
dapat memberikan kesenangan yang penuh dan juga kedamaian hati.